Pola Asuh Anak
 
Semua BlogPengetahuan AnakDunia AnakKesehatan AnakPola Asuh AnakKisah dan CeritaPsikologiEdukasiUmum

Membangun Interaksi yang Sehat Antara Orangtua dan Remaja
image : freepik.com
Membangun Interaksi yang Sehat Antara Orangtua dan Remaja

Sejak adanya pandemi, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari mulai dari SFH, WFH, ibadah di rumah, kebiasaan dalam berinteraksi, kondisi finansial, dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini banyak hal yang tidak terduga terjadi sehingga membuat kita merasa lelah baik secara fisik maupun psikis. Kelelahan ini akan berdampak pada bagaimana cara individu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan pasangan, orangtua, anak, teman, rekan kerja, dan orang lainnya.

Perubahan yang terjadi selama pandemi, membuat para remaja cenderung merasa bosan, terkekang, mudah marah, sedih, tertekan, dan lain-lain. Hal ini dapat memicu para remaja merasa tidak bahagia dan tidak nyaman ketika berada di rumah. Oleh karena itu, interaksi yang sehat antara orangtua dan anak remajanya sangatlah penting di masa-masa seperti ini. Pada situasi seperti ini, kita perlu memahami bahwa anak-anak kita terutama remaja sangat menginginkan para orang dewasa (terutama orangtua) di sekitarnya dapat mengerti situasi diri mereka dan memperlakukan diri mereka dengan hangat. Namun perilaku yang mereka tampilkan cenderung bertentangan dengan hal-hal yang sebenarnya ada di benak mereka seperti uring-uringan, bermalas-malasan, menentang perintah orangtua, ataupun drama-drama lainnya. Hal tersebut bisa jadi merupakan cara mereka untuk mencari perhatian orangtua.

Jika anggota keluarga dalam rumah ada yang tidak bahagia atau merasa tidak nyaman berada di rumah maka dapat dipastikan bahwa ada yang salah dari fungsi keluarganya. Keluarga yang berfungsi dengan baik dapat membuat kita lebih sejahtera, bahagia, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, serta menjadi pribadi yang terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Salah satu hal yang dapat membuat suatu keluarga berfungsi dengan baik adalah adanya interaksi yang sehat antar anggota keluarga. Kalau interaksi yang terjadi di dalam rumah adalah sering bertengkar, berbicara sinis, sering menghakimi, lebih sering berkomunikasi 1 arah, saling menyalahkan, bahkan tidak berbicara sama sekali walau berada dalam satu rumah, maka sudah jelas bahwa interaksi dalam keluarga tersebut tidak sehat.

Cara Orangtua Membangun Interaksi yang Sehat dengan Anak Remajanya
Lalu bagaimana cara orangtua mulai membangun interaksi yang sehat dengan anak remajanya ? Berikut cara-caranya :
  1. Pahami terlebih dahulu mengenai karakteristik remaja
Ciri khas remaja, yaitu :
  • Emosional (disebabkan oleh adanya ketidakstabilan hormon dalam tubuh)
  • High energy (sehingga sering begadang)
  • Ingin mandiri (tidak mau dianggap seperti anak kecil lagi)
  • Rebellious (senang menentang atau melawan otoritas)
  • Impulsive (senang melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang)
  • Mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk bersosialisasi (teman lebih penting dari keluarga ataupun tugas)
  • Kemampuan kognitif mulai berkembang ke tahap formal operational sehingga mampu berpikir abstrak, menganalisa, mulai mampu membuat tujuan hidup, mulai mempertanyakan bahkan hingga mendebat sudut pandang orangtua.
Dengan memahami ciri khas remaja maka kita akan lebih bijak dalam menilai anak remaja kita. Jadi kita tidak cepat menyimpulkan bahwa mereka adalah anak yang nakal, pembangkang, sulit diatur, drama queen/king, dan lain sebagainya.
 
  1. Luangkan waktu untuk mencairkan suasana rumah dengan beraktivitas bersama
Sebelum orangtua meminta anak beraktivitas bersama, pastikan terlebih dahulu orangtua mengamati hal apa saja yang sedang anak remajanya senangi. Hal ini bertujuan agar orangtua dapat memilih kegiatan yang menyenangkan dan dapat memulai topik pembicaraan yang satu frekuensi dengan anak remajanya.
 
  1. Building trust
Tumbuhkan kepercayaan bahwa orangtua dapat menjadi teman berbagi dan memberikan dukungan dalam situasi apapun. Ketika remaja menampilkan emosi negatif seperti uring-uringan, menyendiri, atau bahkan tidak mematuhi perintah orangtua, maka jangan langsung kita hakimi. Mereka bersikap seperti itu karena mereka ingin menyampaikan apa yang merasa rasakan dan pikirkan, namun di sisi lain mereka juga takut untuk dinilai, dimarahi, ataupun dikritik oleh orangtua mereka. Oleh karena itu, orangtua perlu untuk mendengarkan keluh kesah mereka serta tanyakan apa yang mereka rasakan dan apa yang terjadi dengan dirinya. Terima sudut pandang mereka dan hargai pendapatnya. Misalnya saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa pacarnya, maka hargailah sudut pandang mereka dan tunjukkan bahwa orangtua bisa mengerti perasaan mereka.
 
  1. Bantu melihat dunia
Jika mereka bertanya mengenai suatu sudut pandang atau akan memilih sesuatu, maka ajak remaja untuk menganalisa hal tersebut dengan cara berikut :
  • Ajak mereka membayangkan dampak terburuk dari pilihannya atau sisi ternegatif dari sudut pandang tersebut.
  • Ajak mereka membayangkan dampak terbaik dari pilihannya atau sisi terpositif dari sudut pandang tersebut.
  • Ajak mereka berpikir mengenai pilihan atau sudut pandang yang paling memungkinkan atau yang paling realitis terjadi/dilakukan.
  • Biarkan mereka merenungkan pembicaraan tersebut hingga mereka menyebutkan sendiri mengenai keputusannya.
 
  1. Jaga kualitas komunikasi
Hindari komunikasi yang memunculkan emosi negatif seperti menghakimi, mendikte, menyindir, merendahkan, membandingkan, menyalahkan, mengancam, dan menyudutkan.
 
  1. Berikan sentuhan fisik
Sentuhan fisik yang lembut dan tidak memaksa akan membuat remaja merasa mendapatkan kasih sayang. Sentuhan fisik yang paling tepat adalah memeluk dan membelai rambut. Saat memeluk remaja, jangan pernah memaksa tetapi cukup memberikan isyarat tangan terbuka yang menandakan bahwa orangtua akan menerima mereka apa adanya dan memberikan support. Setelah memeluk, jangan pernah melepaskan pelukan terlebih dahulu namun biarkan mereka yang menentukan kapan akan melepas pelukannya. Hal ini menandakan bahwa mereka sudah merasa cukup mendapatkan kasih sayang orangtua. Saat memeluk, sebaiknya jangan bicara agar mereka lebih merasakan detak jantung orangtua yang membuat remaja menjadi semakin nyaman berada di pelukan orangtuanya.

Sudahkah Anda memiliki interaksi yang sehat dengan anak remaja Anda? Bagi kamu para remaja, sudahkah kamu memiliki interaksi yang sehat dengan orangtuamu? Jika Anda merasa masih banyak hal yang harus Anda lakukan untuk memperbaiki kualitas interaksi satu sama lain, Anda bisa langsung tanyakan cara-caranya kepada ahlinya melalui aplikasi d’Fun Station yang bisa  didownload langsung di HP Anda.

Referensi :
Diener E, Lucas RE, Oishi S. 2002. Subjective well-being: the science of happiness and life satisfaction. In: Snyder CR, Lopez SJ, editors. Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press.
Bergman, M.M., & Scott, J. 2001. Young Adolescents Well-Being and Health-Risk Behaviours: Gender and Socio-Economic Differences.





Berikan Komentar Via Facebook

Pola Asuh Anak Lainnya
Berasal dari keluarga tak mampu, ballerina cilik Indonesia jadi juara di Amerika

Berasal dari keluarga tak mampu, ballerina cilik Indonesia jadi juara di Amerika
Sabtu, 16 Februari 2019 13:22 WIB
Keterbatasan ekonomi dan sempat dibully tak menjadi halangan bagi Rebecca Alexandria untuk menjadi ballerina Indonesia bertaraf internasional
Quarter Life Crisis pada Rentang Usia 30an

Quarter Life Crisis pada Rentang Usia 30an
Senin, 26 Oktober 2020 08:49 WIB
Dalam hidup setiap orang, mungkin saja ia akan berhadapan dengan fenomena krisis seperempat abad atau lebih dikenal dengan quarter life
Gen Z, Generasi yang Selalu Terkoneksi dengan Internet

Gen Z, Generasi yang Selalu Terkoneksi dengan Internet
Jum'at, 04 Oktober 2019 10:57 WIB
Belakangan ini kita sering sekali mendengar istilah “gen z”. Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan gen z? Yuk kita
Hal Kecil yang Ternyata Berarti Besar untuk  si Kecil

Hal Kecil yang Ternyata Berarti Besar untuk  si Kecil
Sabtu, 06 Juli 2019 10:45 WIB
Tidak sedikit orangtua yang beranggapan bahwa anak yang sudah dilengkapi segala kebutuhannya maka itu sudah cukup baginya