Psikologi
 
Semua BlogPengetahuan AnakDunia AnakKesehatan AnakPola Asuh AnakKisah dan CeritaPsikologiEdukasiUmum

Ciri Khas Down Syndrome
image: freepik.com
Ciri Khas Down Syndrome

Pada artikel sebelumnya telah kita bahas mengenai apa itu down syndrome, faktor resiko, dan peluang lahirnya anak dengan down syndrome. Seperti yang telah kita ketahui bersama, down syndrome merupakan kelainan genetik yang terjadi karena adanya kelebihan kromosom trisomy 21. Oleh karena hal tersebut, anak dengan down syndrome menunjukkan ciri fisik tertentu yang nampak dari mulai kelahiran atau beberapa waktu setelahnya yang dapat membedakan dirinya dengan anak lainnya. Berikut beberapa ciri-ciri fisik anak dengan down syndrome yang dapat diidentifikasi :
  • Tinggi badan yang cenderung lebih pendek
  • Ukuran kepala dan wajah yang cenderung kecil
  • Memiliki muka yang lebar dan ekspresi yang datar, dengan kedua mata yang tampak tidak simetris serta hidung yang cenderung lebih pendek
  • Mulut kecil dan langit-langit di mulut cenderung rendah sehingga membuat lidah menjulur serta menyebabkan permasalahan pada artikulasi
  • Mata cenderung sipit dan memiliki lipatan di sudut dalamnya
  • Ukuran telinga yang cenderung lebih kecil dengan posisi yang lebih rendah
  • Ukuran kedua tangan lebih pendek dan lebar
  • Ketika lahir bayi dengan down syndrome cenderung lebih pasif dan otot-ototnya lebih lemah sehingga berdampak pada kekuatan dan gerakan
Secara umum down syndrome menyebabkan terjadinya keterlambatan pada perkembangan kognitif sehingga perkembangan motorik dan bahasa anak tersebut pun menjadi lebih terlambat jika dibandingkan dengan anak lain seusianya. Selain itu, anak dengan down syndrome masuk ke dalam kategori intellectual disability dengan tingkat yang beragam, dari mulai kategori sedang hingga berat (dengan rentang IQ 30 hingga 70).

Pada awal perkembangannya, bayi dengan down syndrome membuat sedikit kontak mata dengan ibunya hingga ia berusia tiga bulan. Mereka juga menunjukkan rendahnya atensi saat sedang menjalin komunikasi dengan orang lain maupun hal-hal lain yang berada di sekitarnya.
Selain itu, menangis merupakan salah satu bentuk komunikasi awal yang dilakukan oleh bayi di masa awal kehidupannya. Namun, bayi dengan down syndrome akan sedikit menangis meskipun mereka sedang merasa sakit, baik itu karena terjatuh atau terluka. Saat mereka menangis, mereka juga cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lainnya hingga akhirnya dapat tenang.

Ketika berada di fase bayi, bayi dengan down syndrome umumnya mengalami hambatan dalam mengisap dan mengunyah. Ketika berusia di bawah 1 tahun, mereka cenderung melihat suatu objek atau orang lebih lama sebelum akhirnya memberikan respon. Hal ini berbanding terbalik dengan bayi lain di kelompok usia yang sama yang mana cenderung langsung memberikan respon pada objek maupun orang-orang di sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa bayi dengan down syndrome membutuhkan waktu yang lama untuk memproses suatu informasi.

Terkait perkembangan motoriknya, anak dengan down syndrome biasanya menunjukan perkembangan motorik yang terlambat jika dibandingkan dengan anak lain seusianya. Rata-rata mereka baru bisa mulai berjalan di usia 24 bulan atau satu tahun lebih lambat dibandingkan dengan anak lain seusia mereka.
Di sisi lain, faktor fisiologis seperti ukuran mulut yang kecil dan langit-langit di mulut yang cenderung rendah menyebabkan munculnya permasalahan pada artikulasi sehingga hal ini mengganggu kemampuan mereka dalam berbahasa.

Semakin bertambahnya usia maka perkembangan yang dimiliki oleh anak dengan down syndrome akan berada di bawah usia kronologisnya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi pencapaiannya dalam proses belajar di jenjang sekolah. Oleh karena itu, pihak sekolah harus memperhatikan lebih seksama mengenai kesulitan-kesulitan yang mereka alami di dalam kelas.

Jika anak Anda memiliki gejala down syndrome dan Anda merasa panik maupun takut terhadap kondisi ini, Anda bisa konsultasikan langsung kepada ahlinya via aplikasi d’Fun Station di smartphonemu sekarang juga. Para psikolog ahli siap membantumu kapan saja lho!

Daftar Rujukan
Clikeman, M.S., Ellison, P.A.T. 2009. Child Neuropsychology. New York ; Springer Science and Business Media.
Herbert, Martin. 2005. Developmental Problems of Children and Adolescence. Oxford : Blackwell Publishing.
Smith, M.B., Patton, J.R., Kim, S.H. 2006. Mental Retardation-An Introduction to Intellectual DIsabilities. New Jersey ; Pearson Education Inc.





Berikan Komentar Via Facebook

Psikologi Lainnya
Orang Tua Sebaiknya Baca Kisah tentang Ungkapan Jujur Seorang Anak ini. Kisah yang Bisa Menjadi Renungan Kita dalam Mendidik Anak

Orang Tua Sebaiknya Baca Kisah tentang Ungkapan Jujur Seorang Anak ini. Kisah yang Bisa Menjadi Renungan Kita dalam Mendidik Anak
Sabtu, 23 Februari 2019 13:08 WIB
Kisah ini banyak beredar di social media. Terlepas kisah fiktif atau nyata dari cerita ini, tapi sangat bisa menjadi bahan
Mengenal Duka dan Kehilangan Dalam Hidup

image: freepik.com

Mengenal Duka dan Kehilangan Dalam Hidup
Selasa, 26 Januari 2021 08:27 WIB
Duka dan kehilangan adalah bagian normal dari kehidupan yang dialami oleh setiap orang. Duka merupakan respon normal atas kehilangan selama
Kenali 7 Ketakutan Umum Yang Bisa Dialami Anak

Kenali 7 Ketakutan Umum Yang Bisa Dialami Anak
Senin, 23 April 2018 11:41 WIB
Perasaan anak masih sangat sensitif untuk itulah mereka masih membutuhkan perhatian dari para orangtuanya. Selain ibu dan ayahnya, orang diluar
Mengapa Bermain itu Penting?

Mengapa Bermain itu Penting?
Minggu, 29 Desember 2019 10:26 WIB
Bermain tidak hanya memberikan kesenangan kepada anak lho parents!