Artikel
 
Semua ArtikelPerkembangan AnakDunia RemajaKehidupan DewasaKeluargaKesehatanPengetahuan Umum

Optimisme vs Pesimisme
image: freepik.com
Optimisme vs Pesimisme

Di era sekarang ini kata optimisme dan pesimisme pasti sudah tidak asing lagi terdengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kedua kata tersebut berperan sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan individu, termasuk pada dunia pendidikan.

Di dunia pendidikan zaman sekarang, optimisme dan pesimisme banyak berpengaruh terhadap suatu kegiatan pembelajaran. Optimisme dan pesimisme merupakan dua kata yang memiliki makna yang saling bertolak belakang satu sama lain. Optimisme digambarkan sebagai sebuah emosi positif, sedangkan pesimisme digambarkan sebagai sebuah emosi negatif.

Apa Optimisme dan Pesimisme?
Optimisme menggambarkan harapan atau keyakinan umum bahwa hal-hal baik akan terjadi, sedangkan pesimisme menggambarkan ekspektasi umum bahwa hal-hal buruk akan terjadi. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa optimisme cenderung dikaitkan dengan sejumlah hasil positif (misalnya, tingkat pencapaian yang lebih tinggi serta kesejahteraan mental dan fisik), sedangkan pesimisme cenderung dikaitkan dengan hasil yang kurang menguntungkan.

Orang yang optimis ialah orang yang memiliki ekspektasi yang baik terhadap masa depannya. Masa depan yang dimaksud mengacu pada tujuan dan harapan-harapan yang baik serta positif dalam seluruh aspek kehidupannya. Istilah harapan sendiri mengacu pada kemungkinan individu dalam mencapai tujuan tertentu. Sebuah tujuan memberikan makna pada kehidupan seseorang, namun tujuan bukanlah sesuatu yang pasti. Tujuan dapat berubah tergantung pada berbagai bentuk umpan balik yang diterima seseorang.

Untuk menumbuhkan optimisme diperlukan usaha. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan optimisme di antaranya seperti pembentukan karakter spiritual, pembiasaan diri untuk berpikir positif, meningkatkan rasa bersyukur, senang memaafkan, dan masih banyak hal  lainnya. Pemikiran optimisme memberi dukungan pada individu agar memiliki kehidupan yang berhasil dalam setiap aktivitas. Optimisme akan membuat seseorang melewati setiap permasalahan dalam hidupnya secara lebih baik karena optimisme membuat individu memiliki energi tinggi dan bekerja keras untuk melakukan hal yang penting dalam hidupnya.

Optimisme dan Pesismisme dalam Dunia Pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, optimisme mendorong pelajar untuk melakukan berbagai hal terbaik untuk mencapai prestasi. Selain itu optimisme memiliki hubungan yang positif dengan pengelolaan stres akademik pada pelajar yang sedang menempuh pendidikan.

Tuntutan tugas yang diberikan oleh guru, terkadang membuat pelajar merasa stres. Namun pelajar yang memiliki optimisme, cenderung mampu untuk mengatasi stres yang dialaminya. Sikap optimis membuat pelajar menjadi lebih semangat dalam menempuh pendidikan dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Untuk menumbuhkan sikap optimis, seorang pelajar harus berusaha memaksa dirinya untuk mencoba menyukai hal-hal yang mungkin tidak disukai serta mencoba menguasai apa yang belum dikuasai.

Pelajar yang optimis memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengharapkan keberhasilan mencapai tujuan. Jika dibandingkan dengan pelajar yang pesimis, pelajar yang  optimis juga cenderung bertahan dalam mengejar tujuan meskipun mengalami kesulitan dalam belajar. Sebagai contoh, seorang pelajar yang optimis saat memperoleh nilai yang buruk dalam ujian pertama mata pelajaran, mereka akan berusaha bertemu dengan gurunya dan merevisi teknik belajarnya untuk lebih bisa mempersiapkan dengan baik di ujian berikutnya. Sebaliknya, bagi pelajar pesimis yang mungkin menghadapi situasi yang sama, mereka akan “menyerah” dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari situasi tersebut (misalnya, tidak lagi menghadiri kelas), bahkan tidak mau masuk sekolah.

Pelajar yang pesimis cenderung selalu menghubungkan peristiwa negatif dengan faktor internal dirinya, misalnya, "Saya gagal dalam ujian bahasa Inggris karena saya bodoh". Sebaliknya, pelajar optimis menghubungkan faktor eksternal untuk peristiwa negatif, misalnya, “Saya gagal dalam ujian bahasa Inggris karena guru saya melakukan pekerjaan yang buruk dalam menjelaskan materi, saya mengalami hari yang buruk ketika saya mengambil tes, dan saya tidak terlalu pandai dalam mempelajari bahasa baru". Penelitian telah menunjukkan bahwa gaya pesimistis ternyata berkaitan erat dengan gejala depresi dan kesehatan fisik yang lebih buruk (misalnya, fungsi kekebalan yang ditekan).

Pelajar yang optimis sering menggunakan strategi koping yang berfokus pada masalah yang melibatkan upaya aktif untuk mengatasi masalah dengan cara terlibat dalam pemecahan masalah secara langsung, misalnya menangani stres yang terkait dengan ujian yang akan datang dengan cara belajar terlebih dahulu.

Dalam banyak kasus, pendekatan seperti itu sangatlah adaptif. Namun, penggunaan strategi koping yang berfokus pada masalah dapat mengakibatkan usaha yang sia-sia ketika masalah yang terjadi sudah tidak dapat diubah lagi (seperti kesehatan yang menurun dan kematian orang yang dicintai) atau pelajar tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk menerapkan perubahan tersebut.

Keuntungan Pelajar yang Optimis
Para pelajar yang optimis memiliki beberapa keuntungan dalam  aspek kehidupannya seperti :
  1. Cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi kesulitan dan lebih gigih dalam mengejar tujuannya.
  2. Mampu mengambil tindakan langsung ketika menghadapi masalah, cenderung lebih terencana ketika menghadapi kesulitan, dan mengambil pendekatan yang lebih fokus dalam upayanya untuk mengatasi masalah.
  3. Lebih mudah menerima kenyataan dari situasi yang merugikan
  4. Memiliki kemampuan yang besar untuk membuat yang terbaik dari situasi yang buruk serta lebih mampu tumbuh atau mendapatkan keuntungan dari pengalaman hidup negatif yang pernah dialami.

Sebagian pelajar terkadang merasa pesimis dengan tugas-tugas yang dikerjakan dan ketika mengikuti ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Terkadang pelajar sering berfikir bahwa hasil yang didapat tidak akan memuaskan. Walaupun sering merasa pesimis, sebagai pelajar kita harus mencoba untuk melakukan hal sebaik mungkin sehingga akan mendapatkan hasil yang memuaskan dalam proses belajar di jenjang pendidikan. Pelajar harus mengeluarkan segala kemampuan terbaik yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut.

Terkadang, kita sebagai pelajar selalu merasa ingin lepas dari semua jenis pikiran pesimisme namun tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut ternyata cukup sulit untuk dilakukan. Jika Anda salah satu orang yang sulit untuk melepas pesimisme dalam hidup Anda, segera download aplikasi d’Fun Station di smartphone Anda dan konsultasikan langsung dengan ahlinya!

Referensi :
_______. Optimism and Pessimism. Iresearchnet [online]. http://psychology.iresearchnet.com/counseling-psychology/personality-traits/optimism-and-pessimism-counseling/
Carver, C. S., & Scheier, M. F. (2002). Optimism. In C. R. Snyder & S.J. Lopez (Eds), Handbook of Positif Psychology (231- 243). New York: Oxford University Press.





konsultasi Onsite

Telepon : 085725340688
Ruko Istana Pasteur Regency Blok CRA 51 Pasteur, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175


Berikan Komentar Via Facebook

Dunia Remaja Lainnya
Apa itu Fetish? Mengenal Lebih Jauh tentang Fetish

image : freepik.com

Apa itu Fetish? Mengenal Lebih Jauh tentang Fetish
Senin, 10 Agustus 2020 12:58 WIB
Fetishtic disorder termasuk ke dalam gangguan parafilia (paraphilic disorder) di DSM-V. Kata paraphilia menunjukkan adanya minat seksual yang intens, terus
Rahasia Manajemen Waktu

Rahasia Manajemen Waktu
Sabtu, 13 Agustus 2022 12:43 WIB
Alasan utama orang-orang berkata “tidak memiliki waktu” sebenarnya disebabkan oleh segala aktivitas mereka yang tidak terorganisir dengan baik.
Cara Menerapkan Sistem Time Out

Cara Menerapkan Sistem Time Out
Jum'at, 01 November 2019 12:25 WIB
Time out merupakah salah satu cara yang dapat digunakan oleh orang tua untuk melatih anak mengontrol perilakunya. Biasanya digunakan saat
Apa Cita-cita Anak Sekolah Zaman Sekarang?

Apa Cita-cita Anak Sekolah Zaman Sekarang?
Kamis, 26 Januari 2017 13:08 WIB
Anda jangan mengelak, meski sekarang pilihan karier meleset jauh dari cita-cita masa sekolah dulu, pasti tiga profesi tersebut di atas