BLOG
DAN
ARTIKEL

Merdeka dari Toxic Relationship dalam Hubungan Pacaran
image : Illustration by google
Merdeka dari Toxic Relationship dalam Hubungan Pacaran
Oleh Hanifah, S.Psi., M.Psi., Psikolog | Sabtu, 15 Agustus 2020 12:34 WIB | 3.931 Views
Disunting Oleh : Brenda Carqua
Istilah toxic relationship menjadi sangat populer belakangan ini untuk menggambarkan hubungan yang tidak sehat baik dengan pasangan, keluarga, maupun lingkungan. Toxic sendiri bukanlah sebuah istilah formal dalam kajian psikologi. Secara harafiah, kata toxic diambil dari Bahasa latin “toxicon” yang berarti panah beracun. Istilah toxic lebih sering digunakan untuk mempermudah menjelaskan tentang apa yang dirasakan seseorang ketika menghadapi individu atau lingkungan tertentu dalam unhealthy relationship.
Garbarino (2011) menggunakan istilah socially toxic environment untuk menggambarkan sekumpulan kondisi lingkungan yang mengancam dan memiliki risiko yang berpengaruh secara signifikan dalam masalah perkembangan hidup individu. Toxic dalam artian ini adalah sebuah ancaman terhadap perkembangan identitas, kepercayaan, dan harapan seseorang.
Lalu apa sebenarnya yang kita harapkan untuk kita dapatkan dalam sebuah relasi hubungan romantis dengan pasangan? Tentu saja hubungan yang membahagiakan serta saling bertumbuh satu sama lainnya. Toxic relationship dalam hubungan pacaran justru akan menimbulkan dampak yang negatif dalam relasi. Menurut Dr. Monica Borshcel, ciri-ciri bahwa kita ada dalam toxic relationship adalah:
  • Adanya tindakan pasangan berupa dorongan yang kuat untuk mengontrol relasi dan mengisolasi dari lingkungan luar.
Hubungan yang terlalu posesif bahkan membuat pasangan tidak boleh bersosialisasi dengan orang lain, teman-temannya, bahkan keluarganya sendiri. Lingkaran relasi menyempit dan seolah hanya boleh berelasi dengan pacar saja. Hubungan pun jadi seperti terisolasi.
  • Manipulasi secara emosional atau gaslighting.
Gaslighting adalah sebuah istilah untuk menggambarkan perilaku manipulasi yang membuat korbannya mempertanyakan atau meragukan persepsi, ingatan, keputusan, bahkan kewarasannya.
  • Melempar kesalahan pada orang lain atau blaming others.
Tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan atau disalahkan sehingga selalu menyalahkan pihak lain di luar dirinya seperti pasangan atau lingkungannya.
  • Playing victim untuk mendapatkan simpati.
Sebenarnya dia yang salah, tapi selalu memposisikan diri sebagai korban agar mendapatkan belas kasihan dan justru membuat pasangannya jadi merasa bersalah.
  • Melakukan tindakan kekerasan / abusive baik secara fisik, verbal, maupun mental.
Lalu apa yang harus dilakukan jika kita ada dalam toxic relationship?
  • Kendalikan diri dan batasi kontak/interaksi.
Kita mungkin tidak bisa secara langsung membuat perilaku pasangan yang toxic berubah, tapi kita bisa fokus pada hal yang dapat dikendalikan, yaitu tindakan dan perilaku kita sendiri untuk membatasi interaksi.
  • Kelola diri dalam bereaksi, jangan sungkan menolak dan katakan ‘tidak’.
Jika kita memahami apa tindakan yang ingin kita lakukan dan menemukan alasan yang tepat, maka jangan ragu menolak.
  • Ubah pola pikir/change mindset.
Kita perlu memiliki filter pribadi dalam menyerap informasi dan tindakan yang dilakukan oleh pasangan. Dasarkan pada fakta, cari data yang mendukung persepsi dan asumsi agar kita tidak selalu terbawa arus persepsi pasangan yang belum tentu benar.
  • Cari lingkungan yang sefrekuensi dan dukungan sosial yang dipercaya.
Jangan hanya berhenti di kamu. Cobalah mencari dukungan dari orang terdekat yang dipercaya agar kamu tidak merasa seorang diri.
  • Buat boundaries, atau batasan yang bisa kamu toleransi dari perilaku pasangan yang toxic. Ambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.
  • Minta bantuan profesional seperti psikolog.
Hubungan yang toxic tentu sangat tidak menyenangkan dan tanpa sadar berdampak negatif bagi pertumbuhan diri secara individu. Maka, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan profesional agar dapat membantumu mengatasi dampak negatif dari toxic relationship yang dialami.

“Never forget that walking away from something unhealthy is brave. Even if you stumble a little on your way out the door.” - Mandy Hale
Jika kamu ada dalam hubungan yang toxic dan kamu ingin merdeka darinya, para psikolog profesional di aplikasi d’ Fun Station apps siap membantu anda. Buruan download aplikasinya di google play sekarang!

Referensi:
Borschel, Monica. (2019). Am I in a toxic relationship?
[Online] www.doctorminicaborschel.com/2019/07/17/am-i-in-a-toxic-relationship/
Garbarino, James. (1995). Raising children in a socially toxic environment. San Fransisco: Jossey-Bass.Inc Publisher

 
Tags
#remaja #psikolog #tumbuh kembang anak
Bagikan Artikel
Komentar popoler
Belum ada komentar
Artikel Populer
Sikap yang Harus Dikembangkan pada Remaja
Sikap yang Harus Dikembangkan pada Remaja
49.933 Views

MANFAAT MENANYAKAN KABAR DAN VALIDASI EMOSI ANAK DI SETIAP HARINYA
MANFAAT MENANYAKAN KABAR DAN VALIDASI EMOSI ANAK DI SETIAP HARINYA
35.384 Views

Pembelajaran Pengembangan Fisik Motorik Anak (Bag. 1)
Pembelajaran Pengembangan Fisik Motorik Anak (Bag. 1)
28.162 Views

Pentingnya Kelekatan (Attachment) Antara Anak & Orang Tua
Pentingnya Kelekatan (Attachment) Antara Anak & Orang Tua
21.419 Views

Orang Tua Sebaiknya Baca Kisah tentang Ungkapan Jujur Seorang Anak ini. Kisah yang Bisa Menjadi Renungan Kita dalam Mendidik Anak
Orang Tua Sebaiknya Baca Kisah tentang Ungkapan Jujur Seorang Anak ini. Kisah yang Bisa Menjadi Renungan Kita dalam Mendidik Anak
14.896 Views

Dampak Positif Media Sosial pada Anak dan Remaja
Dampak Positif Media Sosial pada Anak dan Remaja
14.251 Views

6 Emosi Dasar Manusia
6 Emosi Dasar Manusia
13.774 Views

Peran Keluarga Mengatasi Kenakalan Remaja
Peran Keluarga Mengatasi Kenakalan Remaja
13.200 Views

Seperti Apa Feminisme di Zaman Sekarang?
Seperti Apa Feminisme di Zaman Sekarang?
12.789 Views

Shoebill, Burung yang Tak Suka Terbang dan Suka Menyendiri
Shoebill, Burung yang Tak Suka Terbang dan Suka Menyendiri
12.326 Views