Artikel
 
Semua ArtikelPerkembangan AnakDunia RemajaKehidupan DewasaKeluargaKesehatanPengetahuan Umum

Tips Atasi Konflik Dalam Pernikahan
image : freepik.com
Tips Atasi Konflik Dalam Pernikahan

Apa itu Pernikahan ?
Pernikahan adalah titik transisi peran yang kritis untuk pasangan yang baru pertama kali menikah. Pernikahan melibatkan perpindahan individu dari keluarga masing-masing dan perpindahan fase orientasi perkembangan menjadi relasi suami-istri yang tidak familiar. Pada tahap ini, pusat perhatiannya terletak pada hubungan interpersonal dalam pernikahan serta penyesuaian diri terhadap kehidupan sebagai pasangan yang menikah.

Bagi seseorang yang menikah kembali, transisi yang kritis ialah perpindahan dari relasi suami-istri sebelumnya yang hancur (baik karena kematian atau perceraian) menuju relasi yang sekarang dibentuk dengan pasangan baru dalam pernikahan baru.

Macam-Macam Konflik dalam Pernikahan
Di setiap kehidupan pasti ada konflik. Pernikahan pun tak luput juga dari konflik. Jika konflik tersebut teratasi maka pernikahan dapat berkembang ke arah yang lebih positif. Jika konflik tersebut tidak teratasi maka akan memperburuk situasi konflik berikutnya hingga berdampak pada keretakan rumah tangga. Ada beberapa konflik dasar yang biasa terjadi dalam pernikahan, yaitu :
  1. Suami maupun istri merasa sendiri dalam menghadapi masalah yang muncul. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan suami/istri dalam mengutarakan perasaan dan pikirannya dengan cara yang tepat sehingga menyulitkan pasangan untuk memahami kondisi yang dialami.
  2. Merasa ditolak, tidak diinginkan, bahkan merasa tidak aman. Hal ini dikarenakan adanya komunikasi verbal maupun non-verbal yang tidak sehat seperti terlalu mengkritik dengan minimnya apresiasi, merendahkan, menghakimi, menyindir, membandingkan, menyalahkan, mengancam, menyudutkan, kekerasan fisik, dan lain-lain.
  3. Kurangnya waktu untuk berkomunikasi dari hati ke hati setiap menghadapi permasalahan. Hal ini menyebabkan banyak konflik yang tidak terselesaikan hingga tuntas sehingga selalu memperburuk situasi saat menghadapi konflik selanjutnya.
  4. Suami/istri lupa terhadap hal-hal yang menyatukan mereka, seperti apa yang membuat ia jatuh cinta pada pasangan dan memutuskan untuk menikahi pasangannya tersebut. Hal ini dikarenakan suami maupun istri cenderung berfokus pada sisi negatif atau sisi buruk dari pasangannya.
Konflik dasar pernikahan seringkali berkembang seiring dengan perubahan zaman sehingga muncul beberapa konflik tambahan. Berikut adalah beberapa area konflik tambahan yang biasa terjadi pada kebanyakan pernikahan kaum milenial :
  1. Power & Control
Hal ini berkaitan dengan siapa yang memegang kendali dalam rumah tangga. Sebenarnya kekuasaan dalam keluarga cenderung ditentukan oleh budaya dari keluarga itu sendiri. Selain itu, kepribadian juga memiliki pengaruh dalam menentukan kekuasaan dalam keluarga. Siapa yang memiliki kepribadian yang lebih dominan maka cenderung akan lebih banyak memegang kekuasaan dalam pernikahan. Menurut Blood & Wolfe, terdapat 4 tipe kekuasaan dalam pernikahan, yaitu :
  • Wife Dominant adalah situasi dimana istri lebih banyak membuat keputusan daripada suami
  • Syncratic adalah situasi dimana kekuasaan suami dan istri seimbang. Hal ini membuat pasangan akan selalu bernegosiasi dalam setiap pengambilan keputusan.
  • Autonomic adalah situasi dimana kekuasaan suami istri dibagi berdasarkan area tertentu. Pada situasi ini, keputusan diambil berdasarkan area kekuasaan masing-masing (seperti masalah pendidikan formal anak diputuskan oleh suami dan masalah aktivitas anak di rumah diputuskan oleh istri).
  • Husband Dominant adalah situasi dimana suami lebih banyak memegang kekuasaan dan mengambil keputusan.
  1. Permasalahan yang berkaitan dengan perhatian dan perlindungan terhadap pasangan (seperti perhatian terhadap kegiatan dan kebutuhan sehari-hari, perlindungan terhadap pasangan dan anak-anak)
  2. Intimacy & Privacy
Hal ini berkaitan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan akan kedekatan secara intim dengan pasangan dan kurangnya menghargai kebutuhan privasi dari pasangan.
  1. Trust Issue
Hal ini berkaitan dengan adanya ketidakyakinan dalam diri bahwa ia merasa memiliki dan dimiliki oleh pasangan.
  1. Fidelity
Hal ini berkaitan dengan kesetiaan terhadap pasangan. Trust dan Fidelity ini tidak selalu berjalan berdampingan.
  1. Lifestyle
Lifestyle yang berbeda dapat memberikan peluang untuk memunculkan konflik dalam pernikahan. Hal ini dapat berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menyebabkan konflik kecil sering bermunculan.
  1. Perbedaan cara berpikir dan sudut pandang dalam mengatasi masalah serta mengatasi kecemasan juga dapat membuat munculnya masalah pada pernikahan. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh kultural, pola asuh, dan kebiasaan yang dibawa dari keluarga masing-masing sehingga sangat penting bagi seseorang untuk beradaptasi/ menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai pasangan yang menikah.
Bagaimana cara mengatasi konflik dalam pernikahan dengan tepat ?
  • Katakan terus terang mengenai perasaan yang tidak disukai dan bagaimana hal tersebut perlu diubah.
  • Selesaikan masalah sesegera mungkin dan jangan lari dari masalah atau membiarkan masalah mereda tanpa diselesaikan dengan cara diskusi.
  • Saat membahas mengenai masalah, hal yang terpenting adalah tetap pada inti masalah dan abaikan hal-hal yang tidak penting (ataupun membawa masalah yang lain untuk memperkeruh suasana) hingga masalah tersebut terselesaikan.
  • Adanya komitmen untuk menyelesaikan masalah bersama-sama tanpa melibatkan pihak ketiga. Hindari curhat dengan orang lain yang tidak bisa memberikan sudut pandang yang objektif terkait permasalahan dalam pernikahan, terutama curhat dengan lawan jenis. Cobalah untuk berkompromi satu sama lain, terima perubahan, dan semua tantangan hidup. Ketika menikah, kompromi adalah suatu keharusan bagi suami dan istri.
  • Memulai langkah-langkah sederhana untuk memperbaiki situasi buruk akibat adanya konflik (berikan pelukan hangat untuk mencairkan suasana tegang).
  • Melakukan introspeksi diri (mengakui kesalahan yang dibuat) dan menyampaikan hal-hal sederhana yang akan dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya.
  • Beristirahatlah sejenak dari hubungan tersebut, tapi jangan terlalu lama beristirahat. Biasanya, istirahat panjang mengarah pada keputusan yang merusak bagi pernikahan. Istirahat ini bermaksud untuk menjernihkan pikiran yang kalut sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan. Jika pasangan meminta beristirahat sejenak, maka berikanlah ruang untuk pasangan tetapi buatlah kesepakatan terkait waktu istirahat yang dibutuhkan pasangan.
  • Jika membutuhkan teman berbicara atau bantuan pihak ketiga, maka cara yang paling tepat yaitu konsultasikan dengan Psikolog. Di banyak negara, sudah menjadi praktik normal bahwa orang berkonsultasi dengan psikolog untuk masalah mereka dan masalah kehidupan umum. Dalam mengatasi permasalahan pernikahan, psikolog akan membimbing pasangan dengan cara yang lebih baik. Jadi, selalu disarankan agar berkonsultasi dengan psikolog sebelum memutuskan perpisahan atau perceraian.
  • Lupakan masa lalu dan fokus pada tujuan masa depan yang realistis.
  • Turunkan harapan antara pasangan, terutama saat pernikahan dalam masalah. Ekspektasi yang lebih tinggi bisa lebih menyakitkan, jadi bersikaplah baik satu sama lain dan coba lupakan hal-hal negatif tentang pasangan serta hanya berfokus pada faktor positif saja.
  • Belajar untuk mengendalikan amarah. Untuk hubungan apa pun, kemarahan selalu merusak. Ketika pasangan yang sudah menikah tidak dapat mengkompromikan amarah dan frustrasi mereka, akibatnya hanyalah perceraian. Tanpa kemampuan mengendalikan emosi, komunikasi yang efektif tidak mungkin terjadi
  • Coba untuk menemukan minat yang dapat dilakukan bersama pasangan. Telah terlihat dalam banyak kasus bahwa pasangan yang menghabiskan waktu berkualitas bersama dan mendiskusikan masalah mereka satu sama lain maka pasangan tersebut akan dapat mengatasi masalah dengan lebih baik.
Semua tips untuk mengatasi konflik dalam pernikahan sudah Anda lakukan namun tetap saja tidak membantu mengatasi konflik yang terjadi? Langsung saja download aplikasi d’ Fun Station di smartphone Anda dan konsultasikan konflik yang Anda alami dengan psikolog yang ada di sana!

Source :
Anderson, Stephen A. & Ronald M. Sabatelli. 2003. 3-rd ed. Family Interaction, A multigenerational Developmental Perspective. Boston:  Allyn and Bacon.
Day, Randal D., Kathleen R. Gilbert, Barbara H. Settles & Wesley R. Burr. 1995.  Research and Theory in Family Science. Pacific Grove:  Brooks/Cole Publishing Co.
Duvall, Evelyn Millis.  1977.  5-th ed.  Marriage and Family Development.  Philadelphia:  J.B. Lippincott Co.
Goldenberg, Irene & Herbert Goldenberg.  1985.   Family Therapy:  An Overview.  California:  Brooks/Cole Publishing Co.





konsultasi Onsite

Telepon : 085725340688
Ruko Istana Pasteur Regency Blok CRA 51 Pasteur, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175


Berikan Komentar Via Facebook

Kehidupan Dewasa Lainnya
Toxic Productivity, Kenali Dampak dan Penyebabnya

freepik.com

Toxic Productivity, Kenali Dampak dan Penyebabnya
Senin, 24 Januari 2022 09:55 WIB
Kira-kira mengapa toxic productivity bisa terjadi? Apakah itu muncul begitu saja dalam diri?
Cara Komunikasi Introvert dan Ekstrovert

https://www.mindler.com/

Cara Komunikasi Introvert dan Ekstrovert
Jum'at, 04 September 2020 08:43 WIB
Benarkah orang yang introvert adalah orang yang pendiam, tidak suka bersosialisasi, dan cemas jika berada di tempat yang banyak orang?
Burnout: Gejala Stres Ketika Bekerja

image : freepik.com

Burnout: Gejala Stres Ketika Bekerja
Rabu, 26 Agustus 2020 09:45 WIB
Situasi pekerjaan rentan sekali membuat diri kita mengalami stres. Baik itu karena tuntutan atasan, beban kerja yang berat, lingkungan yang
Anak Sering Mengabaikan Perintah Orang Tua ?

Anak Sering Mengabaikan Perintah Orang Tua ?
Rabu, 10 Juli 2019 13:21 WIB
Anak-anak bisa sangat bandel jika dinasihati, diperintah atau diberi tahu tentang suatu hal