

Banyak orang menganggap bahwa selama ayah tinggal serumah dan memenuhi kebutuhan keluarga, berarti ia sudah menjalankan perannya dengan baik. Padahal, kehadiran ayah bukan hanya soal berada di rumah atau menjadi pencari nafkah. Yang tak kalah penting adalah bagaimana ayah membangun hubungan dengan anaknya. Pernahkah kamu merasa canggung untuk sekadar bercerita kepada ayah? Atau mungkin, setiap kali bertemu, percakapan hanya sebatas "Sudah makan?" atau "Kuliah gimana?" tanpa benar-benar membahas apa yang sedang kamu rasakan. Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak orang tumbuh bersama ayah, tetapi tidak benar-benar merasa dekat dengannya.
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut father involvement atau keterlibatan ayah. Konsep ini menjelaskan bahwa peran ayah tidak hanya dilihat dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan bersama anak, tetapi juga dari kualitas keterlibatan yang ia berikan dalam kehidupan anak sehari-hari.
Menurut Michael E. Lamb, father involvement terdiri dari tiga aspek utama.
Engagement, yaitu keterlibatan langsung ayah dalam aktivitas bersama anak. Bentuknya bisa sesederhana mengobrol setelah seharian beraktivitas, menemani belajar, bermain bersama, atau mendengarkan cerita anak tanpa terdistraksi oleh pekerjaan maupun gawai.
Accessibility, yaitu sejauh mana ayah dapat diandalkan ketika anak membutuhkan kehadirannya. Meskipun ayah memiliki kesibukan atau bekerja di luar kota, anak tetap merasa bahwa ayah ada, mudah dihubungi, dan siap memberikan dukungan ketika diperlukan.
Responsibility, yaitu tanggung jawab ayah dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Bukan hanya kebutuhan finansial, tetapi juga pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga perkembangan emosional anak.
Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa menjadi ayah yang terlibat tidak selalu berarti harus memiliki banyak waktu luang. Yang lebih penting adalah bagaimana waktu yang dimiliki digunakan untuk membangun hubungan yang hangat dan bermakna.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan perkembangan anak di berbagai aspek. Anak yang merasakan keterlibatan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, mampu mengelola emosi dengan lebih sehat, memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, serta lebih mudah membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Sebaliknya, ketika hubungan dengan ayah terasa minim memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan psikologis dan sosial, seperti menurunnya rasa percaya diri dan meningkatnya rasa mandiri, serta kesulitan menjalin hubungan sosial. Hal ini bukan berarti semua anak akan mengalami dampak yang sama, tetapi menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara ayah dan anak memiliki peran penting dalam perkembangan mereka.
Pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan hanya apa yang diberikan oleh ayah, tetapi bagaimana ayah membuat mereka merasa didengar ketika bercerita, didukung saat menghadapi kesulitan, dan diyakinkan bahwa mereka memiliki seseorang yang selalu bisa diandalkan. Karena bagi seorang anak, kehadiran ayah memang penting. Namun, keterlibatan ayahlah yang membuat kehadiran itu benar-benar terasa. Kalau Ayah Bunda ingin memahami kebutuhan emosional dan tumbuh kembang anak lebih dalam, yuk ngobrol bersama psikolog anak di d’Fun Station.
REFERENSI
- MICHAEL E. LAMB, C. S. T.-L. (2010). The Role of the Father in Child Development (Issue 1997, pp. 1–31). https://www.researchgate.net/publication/31670039_The_Role_of_the_Father_in_Child_Development_M_R_Lamb
- Nurmawati, Ni’ami Kamila Hirmah, Fhara Anggi Nuraeni, Zulfa Salma Octavia, R. A. S. (2025). Dampak Peran Ayah yang Hilang. doi:10.52657/jfk.v11i1.2652









