Artikel
 
Semua ArtikelPerkembangan AnakDunia RemajaKehidupan DewasaKeluargaKesehatanPengetahuan Umum

Non-suicidal Self-Injury : Rasa Lega Melalui Rasa Sakit
Non-suicidal Self-Injury : Rasa Lega Melalui Rasa Sakit

Istilah Non-suicidal self-injury (NSSI) mungkin belum terdengar familiar untuk kebanyakan orang, namun kejadiannya banyak terjadi di sekitar kita. Menurut International Society for the Study of Self-Injury (ISSS) tahun 2018 mendefinisikan NSSI sebagai “Pengrusakan jaringan tubuh yang disengaja dan dilakukan sendiri yang tidak disetujui secara sosial dan tanpa niat bunuh diri”. Sedangkan menurut American Psychiatric Association tahun 2013, Nonsuicidal self-injury (NSSI) didefinisikan sebagai perilaku melukai diri sendiri yang disengaja (contoh: menyayat, membakar, menusuk) yang dapat menyebabkan perdarahan, memar, dan rasa sakit yang ditujukan untuk menyebabkan kerusakan tubuh yang ringan tanpa disertai niat untuk bunuh diri. 

Meskipun di masyarakat perilaku NSSI belum banyak menjadi perhatian serius jika dibandingkan dengan percobaan bunuh diri, namun percobaan bunuh diri biasanya dilakukan oleh orang yang pernah melukai diri sendiri. Jadi, NSSI juga perlu menjadi perhatian penting karena NSSI bisa dikatakan sebagai awal mula orang untuk melakukan percobaan bunuh diri. Mayoritas perilaku NSSI marak terjadi di kalangan remaja namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini terjadi juga di kalangan dewasa muda. Hal ini diperkuat oleh Klonsky dan rekan-rekan (2014) bahwa ada sekitar 15% hingga 20% remaja dengan onset terjadinya sekitar usia 13 atau 14 tahun melakukan NSSI dan sekitar 6% orang dewasa melaporkan memiliki riwayat NSSI dalam hidupnya.

Beberapa literatur menunjukkan bahwa faktor penyebab perilaku NSSI adalah ketidakmampuan seseorang dalam meregulasi emosi yang berujung pada pemilihan perilaku NSSI sebagai penyelesaian masalah (mekanisme coping) yang tidak adaptif. Jalan keluar yang dipilih ialah melukai diri. Setelah berhasil melukai tubuhnya, timbul perasaan lega dan tenang dalam diri orang tersebut. Seseorang mampu melakukannya lebih dari sekali karena tidak menemukan alternatif lain untuk menggantikan perilaku tersebut.

Apa saja penyebab seseorang melakukan NSSI?
Sejauh ini, seseorang yang melakukan NSSI masih banyak yang tidak mau berkonsultasi dengan alasan takut dinilai negatif karena stigma dari masyarakat yang masih belum paham akan hal ini. Berikut beberapa penyebab yang sering membuat seseorang melakukan NSSI:

Kesulitan Dalam Mencari Penyelesaian Masalah
Setiap orang pasti memiliki cara masing-masing dalam menyelesaikan masalah, baik secara positif maupun negatif. Namun orang dengan perilaku NSSI cenderung memilih untuk melukai dirinya sendiri ketika berada di bawah tekanan. Mereka cenderung menyalurkan emosi yang dimiliki melalui rasa sakit secara fisik sebagai alternatif penyaluran emosi negatif yang dirasakan. Beberapa literatur mengatakan bahwa remaja yang melukai diri sendiri memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dalam menanggapi pengalaman yang negatif dan memiliki tingkat toleransi stres yang lebih rendah.

Meniru Perilaku NSSI
Perilaku NSSI seringkali diawali dengan meniru orang lain seperti ikut-ikutan teman atau melihat konten media sosial. Namun saat tertimpa masalah, pikiran untuk menyakiti diri muncul hingga akhirnya hal itu dapat menjadi kebiasaan jika tidak dilakukan penanganan yang serius. Orang tersebut menjadi tidak terampil dalam menyelesaikan permasalahannya dan hanya memilih jalan pintas. Hal ini menandakan kegiatan meniru maupun iseng dapat menyebabkan perilaku NSSI yang berkelanjutan. Dari beberapa penelitian, remaja cenderung mengambil informasi dari media tanpa melalui proses penyaringan serta mengikuti tingkah laku teman sebaya yang seharusnya tidak dilakukan. 

Lingkungan yang Negatif
Lingkungan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Teman sebaya menjadi salah satu faktor pemicu terbesar terutama untuk remaja. Bullying atau tindak kekerasan lainnya juga dapat berpengaruh pada perilaku korban. Hal itu membuat korban merasa tidak berguna, rendah diri, serta mengalami trauma sehingga pandangan terhadap teman sebaya menjadi negatif. Korban menjadi sulit mempercayai orang lain dan memilih untuk melukai diri saat ada masalah. Selain itu pola asuh yang buruk seperti adanya kekerasan, pengabaian, atau hubungan yang kurang baik dalam keluarga juga bisa menjadi faktor seseorang melakukan NSSI. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat teraman bagi seseorang justru malah menjadi cikal bakal munculnya perilaku yang tidak diinginkan.

Ada beberapa faktor lain juga yang dapat menjadi penyebab perilaku NSSI, seperti kondisi kesehatan mental seseorang, status sosial dan ekonomi, pengalaman kekerasan, komunikasi yang buruk, penggunaan narkoba, hingga gaya hidup yang tidak sehat.

Pelaku NSSI merasa bahwa NSSI membantunya menghilangkan rasa stress dan memunculkan perasaan lega. Namun tentunya akan ada dampak negatif yang dirasakan yaitu munculnya bekas luka pada tubuh dan ketergantungan. Perlu diingat bahwa perasaan lega yang dirasakan setelah melukai diri itu hanya bersifat sementara. Jadi akan lebih baik jika diupayakan untuk berhenti sedini mungkin atau tidak mencobanya sama sekali.

Jika Anda atau kenalan Anda mulai muncul perasaan ingin melakukan NSSI, Anda atau kenalan bisa segera konsultasikan masalah ini kepada ahlinya via d’Fun Station apps yang dapat diunduh langsung di smartphone Anda. 

Referensi:
Washburn, Jason J. (2019). Nonsuicidal Self-Injury. New York: Routledge
Klonsky, E David; Victor, Sarah E; Saffer, Boaz Y. (2014). Nonsuicidal Self-Injury:
What We Know, and What We Need to Know. British Columbia: Associate Professor, Department of Psychology, University of British Columbia.
http:// https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4244874/





konsultasi Onsite

Telepon : 085725340688
Ruko Istana Pasteur Regency Blok CRA 51 Pasteur, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175


Berikan Komentar Via Facebook

Kesehatan Lainnya
Cara Mendidik Anak untuk Belajar Berbagi

Cara Mendidik Anak untuk Belajar Berbagi
Senin, 08 Juli 2019 11:15 WIB
Mendidik anak untuk belajar berbagi adalah hal yang susah-susah gampang.
Ketahui Hal Berikut Sebelum Ajarkan Pendidikan Seksual Pada Anak

Ketahui Hal Berikut Sebelum Ajarkan Pendidikan Seksual Pada Anak
Sabtu, 29 Oktober 2022 14:30 WIB
Rasa ingin tahu pada anak merupakan suatu hal yang sangat wajar dan menandakan bahwa kemampuan berpikir anak dapat berkembang dengan
Cara Komunikasi Introvert dan Ekstrovert

https://www.mindler.com/

Cara Komunikasi Introvert dan Ekstrovert
Jum'at, 04 September 2020 08:43 WIB
Benarkah orang yang introvert adalah orang yang pendiam, tidak suka bersosialisasi, dan cemas jika berada di tempat yang banyak orang?
Belajar Antri Lebih Penting dari Matematika ?

Belajar Antri Lebih Penting dari Matematika ?
Selasa, 26 Maret 2019 10:10 WIB
“Kami tidak terlalu khawatir anak-anak kami tidak pandai matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak punya budaya mengantri.”