Pola Asuh Anak
 
Semua BlogPengetahuan AnakDunia AnakKesehatan AnakPola Asuh AnakKisah dan CeritaPsikologi

Strategi Mempertahankan Motivasi Belajar Anak Selama School From Home
Strategi Mempertahankan Motivasi Belajar Anak Selama School From Home

Halo parents, tidak terasa bahwa sistem pembelajaran daring sudah memasuki bulan kedua. Pasti banyak sekali tantangan yang dihadapi selama mendampingi anak belajar di rumah. Selain itu, sampai saat ini pasti banyak sekali anak-anak yang mulai mengeluh sudah bosan diam di rumah dan ingin belajar di sekolah bersama guru serta teman-temannya.
Rutinitas kegiatan yang hanya berfokus di rumah membuat mereka merasa jenuh. Selain itu, terkadang mereka juga mengeluh bahwa pendekatan kita sebagai orang tua saat mengajarkan suatu pelajaran berbeda dengan yang dilakukan oleh guru sehingga secara tidak langsung membuat motivasi belajar mereka menurun. Oleh karena itu, berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mempertahankan motivasi belajar anak selama school from home:

  1. Diskusikan antara anak dan orang tua tentang tugas dan manfaatnya
Seringkali anak tidak memahami mengapa mereka harus belajar sehingga mereka kurang semangat untuk belajar. Lakukan diskusi tentang tugas dan manfaat yang akan ia terima saat ini maupun masa depan. Setelah berdiskusi, mereka akan memahami mengapa proses pembelajaran yang dilakukan di rumah penting untuk mereka lakukan dan mereka akan menjadi semangat belajar.
  1. Buat kesepakatan belajar
Saat akan mulai melakukan pembelajaran, orang tua dapat berdiskusi terlebih dahulu untuk membuat kesepakatan. Dalam proses diskusi tersebut bersikaplah terbuka sehingga orang tua dan anak dapat bernegosiasi serta berkompromi satu sama lain saat menyepakati suatu hal. Hindari sikap terlalu mengontrol anak dengan membuat keputusan sepihak tanpa mencoba untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan anak.           
  1. Perbaiki komunikasi yang terjalin antara anak dan orang tua selama proses pembelajaran
Coba kita telaah bersama, jika anak tidak mau belajar jangan-jangan komunikasi yang terjalin tidak efektif dengan anak. Kebanyakan kita sebagai orang tua lebih banyak melarang disertai intonasi suara yang tinggi dan berkata, “jangan main game aja”, “dari tadi cuma nonton tv terus kapan selesainya tugas sekolah”, dan lain-lain. Oleh karena itu, mulai sekarang parents dapat mencoba mengubah kalimat perintah menjadi lebih positif, seperti “tolong gamenya disimpan dulu ya”, “tolong televisinya dimatikan terlebih dahulu”, dan sebagainya. Sampaikan dengan suara tenang dan perlahan. Perhatikan juga gesture saat memberikan perintah, seperti berjongkok hingga sejajar dengan level anak, lihat mata anak sehingga terjalin kontak mata, buatlah kontak fisik dengan menyentuh halus pundak atau telapak tangan anak. Proses tersebut akan membuat anak merasa dihargai dan terjalin komunikasi dua arah antara anak dengan orang tua. Selain itu berikan kepercayaan kepada anak untuk mengutarakan pendapatnya selama proses pembelajaran
 
  1. Buatlah anak merasa bahwa mereka memiliki peran penting dalam proses pembelajaran
Saat belajar kita perlu membuat anak merasa berperan penting agar mereka merasa dirinya terlibat selama proses sehingga hal tersebut membuat mereka merasa hebat dan dibutuhkan. Misalnya dengan melibatkan anak secara aktif dalam proses persiapan maupun pembelajaran. Jika dalam prosesnya apa yang anak lakukan kurang sempurna, maka hargai apa yang sudah ia lakukan dengan memberikan feedback langsung pada perilaku anak. Hindari pemberian label negatif seperti bodoh, pemalas, tidak rajin, dan lain sebagainya.
  1. Biarkan anak belajar sesuai kebutuhan
Orang tua harus mengetahui karakteristik anak saat belajar, misalnya pada usia playgroup atau TK, kita tidak dapat menuntut mereka untuk menyelesaikan tugas atau belajar selama 30 menit karena rentang konsentrasi mereka masih terbatas. Begitupun pada usia SD, kita juga tidak dapat menuntut mereka untuk menyelesaikan tugas atau belajar selama 60 menit secara terus menerus.
  1. Jagalah agar proses belajar tetap menyenangkan, jangan membuat suasana belajar terlalu serius, kaku, ataupun membosankan
Anak pada dasarnya masih senang bermain, oleh karena itu buatlah situasi pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Misal, agar anak mau mengerjakan tugas maka ajaklah anak untuk bermain dengan pura-pura memintanya menjadi guru. Coba minta mereka untuk mengajarkan materi yang sesuai dengan tugas sehingga mereka akan terdorong untuk mengerjakan serta memahami tugas yang harus diselesaikan. Selain itu, sampaikanlah instruksi yang pendek dan jelas yaitu satu kalimat perintah dalam satu waktu, seperti “tolong kerjakan dulu tugasnya ya”, “tolong buka buku tugasnya ya”, dan lain-lain.
  1. Lakukan variasi cara belajar
Buatlah variasi sebelum aktivitas pembelajaran, misalnya dengan melibatkan aktivitas indoor atau outdoor sebelum belajar, aktivitas yang dapat diselesaikan dengan duduk atau sambil berolahraga, dan lain sebagainya. Orang tua juga dapat melakukan variasi cara belajar seperti menonton video yang kontennya sesuai dengan bahan pembelajaran, role play bermain kuis dengan anak tentang materi pelajaran, membuat prakarya ataupun melakukan eksperimen sederhana yang sesuai dengan konteks materi belajar.
  1. Berikan reward jika anak berhasil menyelesaikan tugasnya
Saat anak berhasil menyelesaikan tugasnya, berikan apresiasi walaupun mungkin hasilnya masih jauh dari sempurna. Jelaskan bahwa saat ia berhasil menyelesaikan tugasnya akan ada hadiah yang mereka peroleh. Bentuk reward dapat berupa perolehan bintang, penambahan durasi bermain atau reward dari dalam diri yang akan bermanfaat langsung pada dirinya sendiri (biasanya muncul pada anak yang usianya lebih tua) seperti hasil tugas yang baik dan puas akan hasil tugas yang dikerjakan).

Nah kalau parents masih merasa sudah mencoba semuanya tapi tetap belum berhasil, parents dapat langsung berkonsultasi dengan psikolog anak yang sedang online di aplikasi d’Fun Station. Jangan lupa download ya!

Daftar Rujukan

Mountney, Ross. 2009. Learning Without School – Home Education. London : Jesicca Kingsley Publishers.
Smith, Sarah Ockwell. 2017. The Gentle Discipline Book : How to Raise Co-operative, Polite, and Helpful Children. London : Piatkus.





Berikan Komentar Via Facebook

Pola Asuh Anak Lainnya
Tanda Pola Asuh Orangtua Sudah Tepat, Menurut Psikolog
Tanda Pola Asuh Orangtua Sudah Tepat, Menurut Psikolog
Sabtu, 10 Agustus 2019 05:27 WIB
Tiap orangtua memiliki gaya atau konsepnya sendiri soal pola asuh. Tapi satu yang pasti semua orangtua ingin menjadikan anak-anaknya sebagai
Cara Membuat si Kecil Semangat Masuk Sekolah Setelah Libur
Cara Membuat si Kecil Semangat Masuk Sekolah Setelah Libur
Selasa, 07 Januari 2020 15:37 WIB
Halo Parents, tidak terasa liburan sekolah sudah berakhir. Waktunya anak kembali lagi ke rutinitas semula yaitu masuk sekolah
Pembelajaran Pengembangan Fisik Motorik Anak (Bag. 1)
Pembelajaran Pengembangan Fisik Motorik Anak (Bag. 1)
Senin, 04 Februari 2019 07:33 WIB
Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama.
8 Hal Yang Perlu Diajarkan pada Anak Lelakimu.
8 Hal Yang Perlu Diajarkan pada Anak Lelakimu.
Senin, 14 Januari 2019 09:52 WIB
Selaku cowok, kamu harus mendidik anak laki-lakimu layaknya seorang pria. Lalu, bagaimana mendidik seorang anak laki-laki? Yuk, simak!