Pola Asuh Anak
 
Semua BlogPengetahuan AnakDunia AnakKesehatan AnakPola Asuh AnakKisah dan CeritaPsikologiEdukasiUmum

Pentingnya Kelekatan (Attachment) Antara Anak & Orang Tua
Pentingnya Kelekatan (Attachment) Antara Anak & Orang Tua

Melalui pembentukan kelekatan yang sensitif dan responsif, bayi akan merasa dirinya direspon oleh orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang menunjukkan responsivitas dan sensitivitas terhadap perilaku bayi akan mengembangkan hubungan yang secure serta memiliki regulasi emosi dan perilaku yang lebih efektif.
Kelekatan memberikan kontribusi terhadap perkembangan emosi anak di kemudian hari karena kelekatan bukan sekedar pengalaman personal yang terjadi pada bayi, tetapi dipengaruhi oleh pikiran dan emosi dalam menyikapi pengalaman tersebut.
Kelekatan dapat membentuk suatu internal working model yang mengatur pembentukan perasaan, ingatan, ide dan harapan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain di kemudian hari. Jika kualitas kelekatan yang terbentuk antara bayi dan orang tua berjalan baik, maka si kecil akan merasa senang dan aman, serta kebutuhan utamanya tercapai.


Apa itu internal working models ?

“Working model” atau istilah Bowlby disebut dengan “internal working model” merupakan mekanisme yang berkaitan dengan tingkah laku lekat. Ainsworth (Papalia dan Old 1986)

Konsep working model selanjutnya dikembangkan oleh Collins dan Read (dalam Pramana, 1996) yang terdiri dari empat komponen yang saling berhubungan, yaitu;

  1. Memori tentang kelekatan yang dihubungkan dengan pengalaman
  2. Kepercayaan, sikap dan harapan mengenai diri dan orang lain yang dihubungkan dengan kelekatan
  3. Kelekatan dihubungkan dengan tujuan dan kebutuhan (goal and needs)
  4. Strategi dan rencana yang disosiasikan dengan pencapaian tujuan kelekatan.

Mc Cartney dan Dearing (2002) menyatakan bahwa pengalaman awal akan menggiring dan menentukan perilaku dan perasaan melalui internal working model.

Anak akan menyimpan pengetahuannya mengenai suatu hubungan, khususnya pengetahuan mengenai keamanan dan bahaya. Model ini selanjutnya akan menggiring mereka dalam interaksi di masa yang akan datang. Interaksi interpersonal dihasilkan dan diinterpretasikan berdasarkan gambaran mental yang dimiliki seorang anak. Model ini diasumsikan bekerja di luar pengalaman sadar. Pengetahuan anak didapatkannya dari interaksi dengan pengasuh, khususnya ibu. Anak yang memiliki orang tua yang mencintai dan dapat memenuhi kebutuhannya akan mengembangkan model hubungan yang positif yang didasarkan pada rasa percaya (trust). Selanjutnya secara simultan anak akan mengembangkan model yang parallel dalam dirinya. Anak dengan orang tua yang mencintai akan memandang dirinya “berharga”.

Model ini selanjutnya akan digeneralisasikan anak dari orang tua pada orang lain, misalnya pada guru dan teman sebaya. Anak akan berpendapat bahwa guru dan teman adalah orang yang dapat dipercaya. Sebaliknya anak yang memiliki pengasuh yang tidak menyenangkan akan mengembangkan kecurigaan (mistrust) dan tumbuh sebagai anak yang pencemas dan kurang mampu menjalin hubungan sosial.

Menurut Bowlby internal working model dan figur lekat saling melengkapi serta saling menggambarkan dua sisi hubungan tersebut. Bayi yang diasuh dengan kehangatan, sensitifitas dan responsifitas akan mengembangkan internal working model yang positif pada orang tua dan diri sendiri. Internal working model merupakan hasil interpretasi pengalaman secara terus-menerus dan interaksinya dengan figur lekat.

Ada dua faktor yang dapat meningkatkan kestabilan internal working model, yaitu :

  1. Familiar, yaitu pola interaksi yang berulang, cenderung akan menjadi kebiasaan yang terjadi secara otomatis;
  2. Dyadic Pattern, pola yang timbal balik cenderung akan mengubah pola individual karena harapan yang timbal balik memerintahkan masing-masing pasangan untuk mengartikan perilaku pihak lainnya.

Bowlby menyatakan dalam teori kelekatannya (attachment theory) bahwa hubungan kelekatan di awal masa kehidupan anak merupakan prototipe untuk semua hubungan sosial di masa depan anak sehingga gangguan kelekatan yang terjadi dalam masa itu memiliki konsekuensi yang sangat berat. Usia 0 sampai dengan 5 tahun merupakan periode kritis pentingnya perkembangan keterikatan atau kelekatan anak pada pengasuhnya. Jika pada usia tersebut anak mengalami peristiwa yang menyebabkan terganggunya kelekatan dengan orang tuanya, seperti perilaku abai dari orang tua, perceraian orang tua, kematian, dan pemisahan karena konflik keluarga juga mempengaruhi kecerdasan serta perilaku agresif anak hingga usia dewasa.

Penelitian mengenai hubungan antara anak dengan orang tua lebih lanjut mengklasifikasi 4 pola kelekatan sebagai berikut:

  • Kelekatan yang aman (Secure attachment)

Pola ini merupakan kondisi ideal hubungan kelekatan yang didapat oleh anak dengan orang tuanya. Anak-anak yang memiliki kelekatan baik dengan orang tuanya akan memiliki pandangan positif terhadap orang lain serta memandang dirinya sendiri berharga sehingga anak-anak ini memiliki kepercayaan diri yang lebih untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya.

  • Kelekatan yang bersifat menghindar (Anxious avoidant attachment)

Anak-anak dengan pola kelekatan ini seringnya akan menghindari interaksi sosial seolah-olah tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya, menarik diri dari pergaulan, serta menolak meminta bantuan orang lain atau menjaga jarak. Perilaku “kemandiriannya” tersebut merupakan upaya anak dalam berjaga-jaga kemungkinan terjadinya stres yang pernah menimpa dirinya saat membuka diri terhadap orang lain. Gangguan perkembangan kelekatannya yang dialami biasanya berupa penolakan dari orang tua di masa kecilnya.

  • Kelekatan yang bersifat penolakan (Anxious resistant attachment)

Bertolak belakang dengan pola kelekatan menghindar (anxious avoidant attachment), anak dengan pola ini justru sangat bergantung pada pengasuh utamanya dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Hal ini terjadi sebagai bentuk kurangnya kelekatan terhadap orangtua di masa kecilnya. Tidak jarang individu ini akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah marah, cemburu, penuntut, dan bergantung pada orang lain.

  • Kelekatan yang tak beraturan (Disorganized attachment)

Pola ini merupakan campuran atau ambivalen. Anak dengan pola kelekatan ini terkadang melihat orang lain sebagai ancaman sehingga menimbulkan perilaku-perilaku agresif-defensif. Biasanya anak dengan pola ini tumbuh di lingkungan keluarga yang lazim dengan tindakan kekerasan. Alih-alih mendapatkan kasih sayang dari orang tua, upayanya mencari afeksi justru membuatnya menerima perilaku kasar atau bahkan pukulan. Anak akan tumbuh dewasa menjadi individu yang pada umumnya cepat mengalami perubahan suasana hati, satu waktu ia merasa cemas sangat ingin disayangi namun berubah merasa tidak pantas disayangi. Hal ini berdampak pada sulitnya mereka membangun suatu hubungan yang sehat dengan orang lain.

Dari teori kelekatan (attachment theory) ini sangat jelas pentingnya peranan orang tua dalam membesarkan anak dan menghasilkan individu-individu yang sehat secara psikologis.

Ketika Moms sebagai orang tua menemukan adanya perilaku anak yang menunjukkan hal negatif, segera cari pertolongan atau konsultasikan dengan pihak profesional yang dapat membantu.





Berikan Komentar Via Facebook

Pola Asuh Anak Lainnya
5 Tahap Mencari Pengasuh Anak

5 Tahap Mencari Pengasuh Anak
Senin, 22 Oktober 2018 09:20 WIB
Duh, Bunda kewalahan nih mengurus si kecil sendirian. Bila berencana mencari pengasuh untuk anak, coba ikuti 5 tahap ini ya,
Apakah Emosi Itu?

image: freepik.com

Apakah Emosi Itu?
Selasa, 02 Februari 2021 14:42 WIB
Emosi ditunjukkan dalam hal yang spesifik seperti rasa senang, takut, marah, dan seterusnya, tergantung dari interaksi yang dialami
Emosi Negatif Pada Anak

Emosi Negatif Pada Anak
Rabu, 18 September 2019 09:30 WIB
Emosi negatif dapat kita artikan sebagai emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, di antaranya adalah takut, marah,
Apa itu Autisme?

image: freepik.com

Apa itu Autisme?
Kamis, 01 April 2021 11:59 WIB
Autisme dikenal sebagai gangguan "spektrum" karena memiliki variasi yang luas dalam jenis dan tingkat keparahan gejala yang dialami setiap individu