Psikologi
 
Semua BlogPengetahuan AnakDunia AnakKesehatan AnakPola Asuh AnakKisah dan CeritaPsikologiEdukasiUmum

Tips Jaga Kesehatan Mental Remaja
Tips Jaga Kesehatan Mental Remaja

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai oleh beberapa perubahan signifikan dalam aspek biologis, kognisi, dan psikososial. Dalam kondisi ini sangatlah wajar apabila remaja menjadi rentan mengalami konflik ketika dihadapkan dengan tuntutan dan harapan lingkungan. Mereka cenderung menjadi sangat sensitif dan memiliki mood yang mudah berubah saat berinteraksi dengan orang di sekelilingnya seperti orang tua, saudara, dan teman-temannya.

Keunikan pribadi remaja lainnya yaitu mereka senang bereksperimen untuk mencari pengalaman baru. Ide dan kreativitasnya pun berkembang, namun mereka masih kurang mampu melihat resiko dari suatu tindakan sehingga mereka kurang matang dalam mengambil keputusan, memiliki keinginan yang kuat untuk mandiri, serta mencari ‘jati diri’ yang akan menjadi kepribadian mereka di masa selanjutnya. Tidak heran jika masa ini seringkali disebut sebagai ‘periode krusial’ dikarenakan keberhasilan melewati masa remaja akan menentukan bagaimana mereka berfungsi sebagai orang dewasa kelak. Kesehatan mental remaja merupakan hal penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya seseorang melewati masa remajanya. 

Apa itu kesehatan mental?
Kesehatan mental remaja sangat berkaitan dengan bagaimana remaja berpikir, merasakan, dan bertindak secara ‘sehat’ sehingga tercipta kesejahteraan emosi, psikologis, dan kehidupan sosial mereka. Orang yang sehat mental akan mampu mengendalikan stres-nya, membangun hubungan positif dengan orang lain, dan mengambil keputusan secara tepat. Kesehatan mental merupakan sesuatu yang dapat dijaga dan dipelihara seperti layaknya kita merawat tubuh agar tetap sehat. 

Apa saja faktor penyebab seseorang tidak sehat mental?
Berbagai aspek dalam kehidupan memberikan kontribusi pada kesehatan mental remaja. Jika kesehatan mental remaja tidak terjaga dengan baik, hal ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan remaja itu sendiri. Lalu faktor apa saja yang dapat mempengaruhi seseorang tidak sehat mental? Berikut ini kami rangkum menjadi 3 kategori yaitu :
  • Faktor biologis, seperti genetik dan kerusakan otak
  • Faktor lingkungan, seperti pengalaman hidup yang buruk, trauma, bullying, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakstabilan situasi dan kondisi di rumah, merasa tertekan, dan lain-lain.
  • Histori keluarga terkait masalah kesehatan mental.
 
Apa akibatnya jika remaja tergolong tidak sehat mental?

Remaja yang kondisi kesehatan mentalnya tidak terjaga akan kesulitan mengembangkan potensi yang dimilikinya, bermasalah dalam performa akademik, tidak mampu menjalin relasi, merasa cemas, menarik diri, serta cenderung menunjukkan perilaku yang mengambil resiko, bahkan sangat memungkinkan muncul keinginan untuk melakukan self harm dan suicide. Selain kecemasan dan depresi, remaja juga banyak dilaporkan mengalami eating disorders, personality disorders, substance-abuse disorders, psychotic disorders, dan lainnya. 

Orang tua sebagai lingkungan terdekatnya memiliki peranan yang sangat penting dalam melindungi remaja dari berbagai resiko gangguan psikologis, yaitu dengan cara menjaga kesehatan mental mereka. Berikut beberapa saran yang dapat digunakan dalam upaya menjaga kesehatan mental remaja :
  1. Put yourself in their shoes
Pahamilah remaja dengan membayangkan Anda berada di posisinya saat ini. Telusuri karakteristik dan hal-hal yang terjadi kepadanya, bukan hanya perilakunya tetapi juga secara emosional. Dengan menempatkan diri untuk melihat dari sudut pandang mereka, orang tua akan lebih mudah memberikan bantuan dan arahan yang tepat dalam menyelesaikan setiap masalah yang dilalui oleh remaja, serta akan lebih mudah untuk diterima dan diterapkan oleh remaja dibandingkan orang tua yang hanya menyampaikan tuntutan dan harapannya sendiri. Hal ini pun akan membantu mengontrol emosi Anda saat mereka bersikap kurang menyenangkan terhadap Anda.
  1. Memperkuat bonding antara orang tua dan remaja
Banyak penelitian menunjukkan hasil bahwa keterlibatan orang tua memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan psikologis remaja. Dalam hal ini, diperlukan pengasuhan dan stimulasi yang responsif serta pemberian batasan yang sesuai dengan remaja sehingga tercipta hubungan emosional yang positif dan stabil antar orang tua dan remaja. Remaja yang memiliki hubungan positif dengan orang tua akan memiliki rasa aman dan memandang diri mereka sebagai individu yang memiliki tujuan dan inisiatif sendiri dalam menghadapi hal-hal di masa depan. Kondisi ini menunjukkan berkembangnya self-esteem dan self efficacy pada diri mereka yang juga akan berkontribusi pada perkembangan relasi sosial yang lebih luas, regulasi emosional, dan cara anak mengatasi masalah perkembangan selanjutnya.

Salah satu cara memperkuat bonding yaitu dengan berkomunikasi secara tepat. Berikut ini dapat orang tua lakukan saat berkomunikasi dengan remaja : 
  • Mendengar lebih banyak dibanding bertanya-tanya. Pertanyaan hanya diajukan sebagai tanda bahwa Anda tertarik dengan hal yang dibicarakan. Remaja akan lebih terbuka dan bercerita lebih banyak saat berada pada kondisi tidak tertekan dan tanpa penilaian.
  • Reflecting their feelings. Tegaskan perasaan mereka dengan kata-kata Anda, seperti misalnya “pastilah kesal melihat temanmu berbuat seperti itu”. Hal ini akan membuat mereka merasa dimengerti.
  • Berilah apresiasi. Terkadang orang tua lebih sering mengapresiasi anak yang lebih kecil dibandingkan kepada remaja, meski mereka terlihat tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang tua namun kenyataannya mereka menginginkan penerimaan Anda. 
  • Lakukan aktivitas bersama, seperti memasak, makan, olahraga, atau menonton film bersama. Hal ini tentu akan mempererat hubungan antara orang tua dan remaja dikarenakan remaja lebih merasa nyaman dan terbuka pada situasi informal.
 
  1. Dukung remaja dalam menjalin hubungan pertemanan
Membangun hubungan dengan teman sebaya sangatlah bernilai bagi seseorang yang berada pada periode remaja. Remaja yang berhasil menjalin hubungan pertemanan yang baik akan menunjukkan level kesejahteraan emosional yang lebih tinggi serta memiliki level emotional-distress yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja tanpa teman. Penerimaan dan dukungan dari kelompok kecil dapat mengembangkan perilaku prososial dan prestasi akademik remaja. Namun dalam proses interaksi seringkali remaja mengalami tekanan untuk mengikuti teman sebaya (konformitas) baik dalam hal yang bersifat positif maupun ke arah negatif. Oleh karena itu, keterbukaan remaja kepada orang tuanya perlu dibangun agar pergaulan anak tetap dapat terpantau. 

Dewasa ini, penggunaan gadget, internet, dan jejaring media sosial sudah sangat erat dengan kehidupan remaja, terlebih lagi dalam kondisi pandemi sekarang ini. Maka tidak ada salahnya bagi orang tua untuk memfasilitasi anak dengan mempersiapkan media dan waktu bagi remaja untuk melakukan koneksi dengan teman-temannya. Meskipun demikian, ada baiknya bagi remaja dan Anda sebagai orang tua untuk tetap berdiskusi perihal pengalaman, pikiran, serta perasaannya dalam menggunakan media sosial dan bersepakat untuk membatasi waktu penggunaan gadget yang idealnya tidak lebih dari 4 jam dalam sehari agar remaja terhindar dari resiko-resiko penggunaan gadget berlebih. 
  1. Membiasakan pola hidup sehat
Masa remaja adalah periode penting untuk mengadopsi kebiasaan pola hidup sehat. Orang tua dapat menjadi role model yang baik. Pola hidup sehat yang dimaksud dalam hal ini adalah dengan melakukan tidur yang cukup, olahraga rutin, serta makan dan minum makanan minuman yang sehat secara teratur. Hal ini baik untuk perkembangan anak baik secara fisik maupun mental remaja Anda. Melakukan pola hidup sehat bersama-sama dengan keluarga tentu akan menyenangkan dan bisa menjadi energi bagi satu sama lain.
  1. Mengembangkan kemampuan mengatasi masalah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa remaja rentan mengalami konflik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, maka dari itu mereka perlu belajar menghadapi stres-nya, mengelola emosinya, dan mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
  1. Perlunya kepekaan orang tua
Meski remaja memiliki ruang dan kehidupan personalnya sendiri, tapi orang tua perlu tetap jeli memperhatikan perubahan suasana hati, perilaku, tingkat energi, atau nafsu makannya untuk mengetahui kapan bantuan Anda diperlukan. Perhatikan jika remaja mulai menunjukkan indikator stres berlebihan seperti sering sakit, menarik diri dari teman, keluarga, atau aktivitas, terjadinya perubahan kebiasaan makan dan tidur, kemarahan dan sangat mudah tersinggung, serta mengungkapkan keputusasaan. Hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa ia memerlukan penanganan psikologis lebih lanjut. Jika gejala tersebut mulai nampak dalam kehidupan remaja maka jangan ragu untuk segera download aplikasi d’Fun Station di smartphone Anda dan konsultasikan langsung dengan ahlinya.

Mari luangkan pikiran dan waktu Anda lebih banyak lagi untuk remaja sehingga kesehatan mental mereka dapat tetap terjaga dengan baik.

Referensi :
  • Hinton, Rachael. (2019). Adolescent Mental Health : Time for Action. PMNCH Knowledge Summary : Women’s, Children and adolescent Health 36.
  • Newman, M Barbara & Newman, R. Philip. (2020). Theories of Adolescent Development. UK : Academic Press.
  • Zukauskiene, Rita. (2014). Adolescence and Well-Being. Department of Psychology, Mykolas Romeris University, Vilnius, Lithuania. Springer Science+Business Media Dordrecht.
  • World Health Organization. Adolescent mental health. Fact sheet. 2020. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health





Berikan Komentar Via Facebook

Psikologi Lainnya
Tips Atasi Konflik Dalam Pernikahan

image : freepik.com

Tips Atasi Konflik Dalam Pernikahan
Sabtu, 24 Oktober 2020 08:53 WIB
Pernikahan adalah titik transisi peran yang kritis untuk pasangan yang baru pertama kali menikah. Pernikahan melibatkan perpindahan individu dari keluarga
Peran Keluarga Mengatasi Kenakalan Remaja

Peran Keluarga Mengatasi Kenakalan Remaja
Rabu, 22 Januari 2020 10:55 WIB
Remaja merupakan fase dimana terdapat perubahan peran menjadi individu yang lebih dewasa
Memilih Sepatu Anak yang Pas

Memilih Sepatu Anak yang Pas
Kamis, 25 April 2019 07:47 WIB
Ada beberapa syarat memilih sepatu yang wajib diperhatikan lho. Apa saja syaratnya? Yuk kita intip bersama.
5 Tahap Mencari Pengasuh Anak

5 Tahap Mencari Pengasuh Anak
Senin, 22 Oktober 2018 09:20 WIB
Duh, Bunda kewalahan nih mengurus si kecil sendirian. Bila berencana mencari pengasuh untuk anak, coba ikuti 5 tahap ini ya,