Artikel
 
Semua ArtikelPerkembangan AnakDunia RemajaKehidupan DewasaKeluargaKesehatanPengetahuan Umum

Toxic Productivity, Kenali Dampak dan Penyebabnya
freepik.com
Toxic Productivity, Kenali Dampak dan Penyebabnya

Dalam artikel sebelumnya Toxic Productivity, Mungkinkah Sedang Kamu Alami? kita sudah tahu mengenai apakah itu toxic productivity. Pertanyaan selanjutnya yang mungkin saja muncul di benak kita, mengapa bisa terjadi toxic productivity? Lalu apa saja dampak yang mungkin terjadi dalam diri kita? Yuk cari tahu bersama-sama!

Penyebab Toxic Productivity
Kira-kira mengapa toxic productivity bisa terjadi? Apakah itu muncul begitu saja dalam diri? Ternyata toxic productivity bisa muncul karena beberapa hal. Apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya toxic productivity? Berikut beberapa penyebab toxic productivity:

  • Membandingkan diri dengan orang lain
  • Tidak mengapresiasi diri
  • Paparan sosial media
  • Penilaian dari orang lain
  • Kondisi pandemi
Produktivitas bukanlah suatu hal yang buruk. Produktivitas akan menjadi suatu hal yang baik apabila kita tahu batasan bagi diri kita. Akan tetapi hal ini juga bisa menjadi berbahaya jika sampai mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan dasar diri kita.

Dampak Toxic Productivity

Setiap hal pasti memiliki akibat. Begitu pula dengan toxic productivity yang bisa memberikan dampak terhadap fisik maupun psikis kita. Apa saja dampak yang mungkin terjadi dalam diri kita? Berikut beberapa dampaknya :

Kelelahan fisik berkepanjangan/penurunan kondisi kesehatan.
Banyak orang mengorbankan kesehatan agar dapat menjadi lebih produktif. Hal ini bisa terjadi akibat seseorang mengesampingkan kebutuhan yang sangat mendasar bagi dirinya  seperti menempatkan tidur, makan, minum, dan kebutuhan bersosialisasi pada prioritas kesekian. Sehingga tak heran jika seseorang yang mengalami toxic productivity akan mengalami penurunan kondisi kesehatan karena terlalu memforsir diri akibat tidak ingin kehilangan kesempatan.

Tidak menghargai pencapaian yang telah berhasil diraih
Seseorang yang mengalami toxic productivity cenderung tidak merasa puas akan hasil apapun yang telah diraih, baik pencapaian kecil ataupun besar. Perlu disadari bahwa memberi afirmasi positif pada diri sangatlah penting untuk dilakukan sebelum melakukan evaluasi terkait langkah yang harus diambil selanjutnya.

Kecemasan berlebihan
Orang yang mengalami toxic productivity akan rentan stress ketika tidak melakukan sesuatu. Sayangnya, orang tersebut stress pada sesuatu yang salah karena fakta sesungguhnya adalah dirinya tidak sedang berdiam diri bahkan sudah melakukan banyak hal, namun ia tidak mampu melihat dan menghargainya dengan baik.

Terganggunya hubungan sosial dengan orang lain
Orang toxic productivity terlalu fokus pada produktivitas hingga jarang bertegur sapa, mengobrol seperlunya (cenderung hanya membicarakan hal terkait pekerjaan), jarang membalas chat, atau bahkan  sibuk melihat webinar maupun terbiasa membicarakan topik-topik berat. Bukan hal yang salah bahwa kita butuh menjalin relasi dengan yang profesional, tapi tak bisa dipungkiri  bahwa kita juga butuh teman yang sefrekuensi dalam hal bercanda, membahas hal-hal ringan, karena  hal tersebut bisa juga membuka sudut pandang diri lebih luas lagi.

Perasaan burnout atau hilang minat terhadap sesuatu hal yang biasanya kita lakukan
Toxic productivity bisa membuat seseorang tidak termotivasi, tidak tahu tujuan, sering putus asa, marah pada sesuatu yang bisa dikerjakan, dan menjadi emosional terhadap sesuatu yang bisa didiskusikan dengan baik-baik, bahkan sedih berlebihan sehingga kinerja justru menjadi menurun. Burnout dapat menimbulkan efek terhadap pekerjaan, kebiasaan, ataupun hobi yang awalnya sangat diminati.

Apa bedanya hustle culture dan toxic productivity?
Hustle culture itu merupakan keadaan bekerja terlalu keras (overworking) hingga menjadi gaya hidup. Penelitian melihat bahwa orang Jepang, Amerika dan negara lainnya memiliki culture ini, dimana orang negara tersebut bekerja selama berpuluh-puluh jam dalam seminggu. Hustle culture cenderung membuat seseorang merasa tidak ada hari dalam hidup tanpa mengerahkan kemampuan terbaik dan tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi. Di dalamnya termasuk toxic productivity.
With increased cortisol production, a stress hormone that weakens the immune system, illness becomes regular.

Nah sekarang kita sudah tahu penyebab dan dampak dari toxic productivity bukan? Apakah Anda sedang mengalaminya bahkan Anda mulai merasakan dampak buruknya? Jika Anda sedang merasakannya, segera konsultasikan masalah Anda kepada ahlinya via aplikasi d’Fun Station yang bisa Anda download di Playstore.


Referensi
Artikel “What Is Toxic Productivity (and How Do I Avoid It)?” ditulis oleh Dr. Therese Mascardo (psikolog) pada 14 April 2020
Dr. Julie Smith (psikolog). BBC. “What Is Toxic Productivity?”.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online.

 





konsultasi Onsite

Telepon : 085725340688
Ruko Istana Pasteur Regency Blok CRA 51 Pasteur, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175


Berikan Komentar Via Facebook

Kehidupan Dewasa Lainnya
Mengenal Duka dan Kehilangan Dalam Hidup

image: freepik.com

Mengenal Duka dan Kehilangan Dalam Hidup
Selasa, 26 Januari 2021 08:27 WIB
Duka dan kehilangan adalah bagian normal dari kehidupan yang dialami oleh setiap orang. Duka merupakan respon normal atas kehilangan selama
Anak Sering Menangis, Wajarkah?

image: freepik.com

Anak Sering Menangis, Wajarkah?
Sabtu, 02 Januari 2021 09:49 WIB
Dengan menangis, mereka berharap untuk mendapatkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya sehingga ia dapat merasa aman dan percaya
Dampak Positif Media Sosial pada Anak dan Remaja

Dampak Positif Media Sosial pada Anak dan Remaja
Kamis, 21 November 2019 10:38 WIB
Penggunaan media sosial di kalangan remaja dan anak meningkat dalam 5 tahun terakhir dan aktivitas ini dapat memberikan dampak positif
Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mempelajari Masa Lalu?

Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mempelajari Masa Lalu?
Rabu, 30 Desember 2020 21:37 WIB
Masa lalu adalah guru terbaik sepanjang masa. Apakah Anda setuju?